h1

Tamasya ke Pulau Umang

August 5, 2008

Sebagai warga negara yang berbakti (cieee…), aku 100% mendukung kampanye Visit Indonesia 2008. Bukan hanya karena Indonesia punya sejuta keindahan alam dan budaya yang unik, tetapi menurutku kampanye ini  jadi sarana yang bagus sekali untuk memotivasi bangsa ini agar lebih bangga dengan negaranya sendiri.

 

Ikut-ikutan memeriahkan kampanye ini, aku mau berbagi cerita tentang hasil perjalananku baru-baru ini. Tanggal 29-30 Juni kemarin aku berlibur bersama keluarga ke Pulau Umang. Pulau yang satu ini letaknya di Selat Sunda, jadi dari Jakarta, kita harus melewati tol seperti ke arah Anyer, tapi kita keluar di pintu Tol Serang dan ambil jalan menuju Pandeglang. Kalau ada yang pernah ke tanjung lesung ataupun ujung kulon, kurang lebih seperti itulah jalan yang harus ditempuh.

 

Perjalanan dengan mobil ke Pulau Umang ternyata butuh pengorbanan ekstra, pantat tepos dan kebosanan yang teramat sangat. Maklum saja, jalanannya lurus – lurus saja dan tidak ada pemandangan untuk dilihat. Yang pasti, bagi yang menyetir sendiri, pastinya akan sangat melelahkan. Untung waktu itu aku disopirin, jadi tinggal tidurrrr…hehe…

 

Untuk sampai ke Pulau Umang, kita harus singgah di desa bernama Sumur, dari sini kita akan menyebrang ke Pulau Umang, namun sebelumnya harus lapor dulu di kantor Pulau Umang, yang terletak di desa Sumur ini. Kita akan dijemput dengan kapal perahu sederhana, yang terus menerus beroperasi jam berapa pun kita datang. Kira-kira hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di Pulau Umang.

 

Ketika sampai di Pulau Umang, kita akan disambut dengan pemandangan gedung putih dilapisi kaca yang tampak anggun. Letaknya yang menghadap ke pantai dan di bawah gedung putih tersebut menghampar kolam renang, yang didesain sedemikian rupa sehingga kelihatan seolah – olah menyatu dengan laut. Di pinggir kolam renang, terdapat patio untuk menikmati sunrise atau sekedar berjemur.

 

Satu hal yang khas dari Pulau Umang ini, sambutan dari pengurus-pengurus resort yang luar biasa ramahnya. Mereka tidak segan mengajak ngobrol dan tidak pernah lupa tersenyum. Dan uniknya, sambutan ramah mereka tidak berhenti saat kita pertama datang saja, tapi setiap saat, bahkan ketika makan malam, mereka tak enggan menghampiri untuk sekedar menyapa.

 

Fyi, di Pulau Umang semua makanan disiapkan dari resort, karena memang tidak ada akses keluar untuk membeli makanan. Makan malam disajikan di dalam gedung putih tersebut, yang dinamakan Sunrise Club. Seperti gala dinner versi sederhana, makanan – makanan diantarkan oleh para pelayan itu ke meja. Makan malam itu juga diiringi dengan live music, yang mengundang tamu-tamu untuk ikut berpartisipasi unjuk gigi.

 

Berdasarkan hasil ngobrol–ngobrol dengan pengurus resort di sana, pulau sebesar 5 hektar itu dimiliki oleh pengusaha bernama Christian William, (kebayang donk betapa tajirnya orang itu, sampai bisa – bisanya membeli pulau), dan ternyata bukan Pulau Umang saja yang dia beli, tapi juga Pulau Owar, yang ditempuh 5 menit dengan boat dari Pulau Umang. Bertentangan dengan Pulau Umang yang dibangun resor – resor mewah, Pulau Owar dibiarkan tetap alami, dengan pantai pasir putih yang halus dan laut yang jernih, tempat ini menjadi sasaran pengunjung – pengunjung pulau Umang untuk bermain pantai dan watersport.

 

 

Di Pulau Umang kita bisa menikmati sunset sekaligus sunrise sepuasnya. Tapi sayangnya sewaktu aku di sana, langit berawan terus, alhasil pupuslah sudah harapan bisa memfoto sunrise dan sunsetnya. Meskipun begitu, pemandangan birunya laut dan putihnya pasir cukup memuaskan untuk dijepretJ

 

Kalau menurutku sih, meskipun memang tempat ini sudah kurang natural karena terlalu banyak sentuhan manusia, tetapi cocok untuk orang-orang Jakarta yang mencari tempat berlibur untuk sekedar bersantai dan melepaskan kepenatan ibukota. Jika dibandingkan anyer dan carita yang pantainya kotor dan terlalu banyak penjaja, Pulau Umang menjanjikan liburan yang tenang dan menyegarkan.

 

Budget: +/- Rp600,000 per orang

Sudah termasuk akomodasi, makan, perahu.

h1

Intro

July 31, 2008

Humm..ini sedikit intro tentang blog ku yang satu ini, “Relung Utopis”J.

 

Kenapa dinamakan “Relung Utopis”? Idenya sebenarnya didapat saat membaca catatan Dewi Lestari tentang perceraiannya dengan sang suami. Di situ kata – kata utopis tercetus. Lalu berdasarkan omong – omong singkat dengan temanku yang mengambil kuliah jurusan filsafat, dia menjelaskan apa itu arti utopis.

Utopis itu terdiri dari 2 kata, U dan Topis. U berarti tidak, sementara Topis berasal dari Topia yang artinya dunia. Jadi menurut temanku sang filosofis, utopis berarti sesuatu yang tidak ada di dunia atau khayalan. Lalu berdasarkan perumusan singkat dariku, blog ini akan menjadi ruang untuk aku menuangkan pikiran, karya, dan khayalan, maka aku pilih nama “Relung Utopis” untuk mewakilinyaJ.

 

Perkenalan singkat tentang si penulis blog iniJ. Berjenis kelamin perempuan, kelahiran Jakarta tahun 1986, jadi kira – kira umurku 22 tahun ini. Sesuai cita – cita sederhana ingin bekerja di kantoran di kawasan elit (cita – cita sederhana, bukan?), aku sekarang kerja di kawasan Sudirman, di gedung BEJ tepatnya. Aku suka mencoba banyak hal baru, tapi tidak pernah benar – benar ahli dalam salah satu bidang itu (hehe hal ini yang selalu aku sesalkan). I love photography (nanti aku akan pamer sedikit di blog ini, hasil jepretan kameraku, mohon kritiknya yah J), music (aku bisa main piano, gitar, biola, tapi seperti yang aku bilang, aku ga benar – benar mahir, hanya sebatas bisa), theater (prestasi terbesar: main pentas teater di pertunjukan Teater SMUku, bahkan sempat manggung di Graha Bhakti Budaya lohhh…yeay!!).

 

Hehehe, sebelum keterusan ‘menjual diri’, udahan dulu perkenalannya, here I am, joining the blogger community, semoga aku bisa terus rajin menulis dan mengupdate blog iniJ

 

h1

Land of God

July 29, 2008

Keindahan duniawi yang membuat kita semakin mengingat kebesaran karyaNya:)