Archive for the ‘photography’ Category

h1

More than just a tool

August 28, 2008

400d.jpg

 

Bought with my own money 🙂

Along the way, we’ll create more than just pictures..

Advertisements
h1

Magic hours

August 26, 2008

I always love magic hours.

Starting from 5 – 6 pm.

It is when the skies turn colours.

From blue to red.

That’s why it is called magic:)

 

Photos are taken at kawah putih, ciwidey, south bandung, Indonesia

More on magic hours

h1

Pesona kawah putih

August 26, 2008

Mystical ciwidey

Judul: Mystical Ciwidey

Foto ini diambil sewaktu saya hunting bareng teman-teman fotografi di kampus bulan Mei 2008. Saat itu Kawah Putih menjadi tempat tujuan hunting kami, sekalian jalan-jalan ke Bandung. Sayang sekali kami tiba di kawah putih kira-kira Pk1 siang, jadi sedikit mengecewakan karena pencahayaan sedikit buruk, namun suasana mistisnya tetap terasa kan?:-p

h1

Cinderamata dari Ciwidey

August 26, 2008
Menanti senja di pinggir situ pateangan

Menanti senja di pinggir situ pateangan

Location: situ pateangan, ciwidey, bandung selatan.

Situ pateangan merupakan salah satu objek wisata yang dikunjungi wisatawan di kawasan Ciwidey. Lokasinya paling atas setelah kawah putih, ranca upas, pemandian cimanggu, dan ciwalini.

Menurut keterangan yang kita baca di lokasi, dikisahkan bahwa nama Situ Patengan berawal dari istilah sunda yaitu Pateangan-teangan yang berarti saling mencari. Masyarakat sekitar bermitos bahwa dahulu kala hiduplah seorang putra prabu bernama Ki Santang dan Putri titisan dewi bernama Dewi Rengganis yang saling mencintai namun terpisah sekian lamanya. karena cinta yang mendalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis kemudian minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar bersama. Perahu tsb kini menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati dan disebut2 sebagai Pulau Asmara (Pulau Sasaka). Konon kabarnya, jika kita singgah ke batu cinta dan mengelilingi pulau asmara, kita akan mendapati cinta yang abadi seperti mereka.

h1

Tamasya ke Pulau Umang

August 5, 2008

Sebagai warga negara yang berbakti (cieee…), aku 100% mendukung kampanye Visit Indonesia 2008. Bukan hanya karena Indonesia punya sejuta keindahan alam dan budaya yang unik, tetapi menurutku kampanye ini  jadi sarana yang bagus sekali untuk memotivasi bangsa ini agar lebih bangga dengan negaranya sendiri.

 

Ikut-ikutan memeriahkan kampanye ini, aku mau berbagi cerita tentang hasil perjalananku baru-baru ini. Tanggal 29-30 Juni kemarin aku berlibur bersama keluarga ke Pulau Umang. Pulau yang satu ini letaknya di Selat Sunda, jadi dari Jakarta, kita harus melewati tol seperti ke arah Anyer, tapi kita keluar di pintu Tol Serang dan ambil jalan menuju Pandeglang. Kalau ada yang pernah ke tanjung lesung ataupun ujung kulon, kurang lebih seperti itulah jalan yang harus ditempuh.

 

Perjalanan dengan mobil ke Pulau Umang ternyata butuh pengorbanan ekstra, pantat tepos dan kebosanan yang teramat sangat. Maklum saja, jalanannya lurus – lurus saja dan tidak ada pemandangan untuk dilihat. Yang pasti, bagi yang menyetir sendiri, pastinya akan sangat melelahkan. Untung waktu itu aku disopirin, jadi tinggal tidurrrr…hehe…

 

Untuk sampai ke Pulau Umang, kita harus singgah di desa bernama Sumur, dari sini kita akan menyebrang ke Pulau Umang, namun sebelumnya harus lapor dulu di kantor Pulau Umang, yang terletak di desa Sumur ini. Kita akan dijemput dengan kapal perahu sederhana, yang terus menerus beroperasi jam berapa pun kita datang. Kira-kira hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di Pulau Umang.

 

Ketika sampai di Pulau Umang, kita akan disambut dengan pemandangan gedung putih dilapisi kaca yang tampak anggun. Letaknya yang menghadap ke pantai dan di bawah gedung putih tersebut menghampar kolam renang, yang didesain sedemikian rupa sehingga kelihatan seolah – olah menyatu dengan laut. Di pinggir kolam renang, terdapat patio untuk menikmati sunrise atau sekedar berjemur.

 

Satu hal yang khas dari Pulau Umang ini, sambutan dari pengurus-pengurus resort yang luar biasa ramahnya. Mereka tidak segan mengajak ngobrol dan tidak pernah lupa tersenyum. Dan uniknya, sambutan ramah mereka tidak berhenti saat kita pertama datang saja, tapi setiap saat, bahkan ketika makan malam, mereka tak enggan menghampiri untuk sekedar menyapa.

 

Fyi, di Pulau Umang semua makanan disiapkan dari resort, karena memang tidak ada akses keluar untuk membeli makanan. Makan malam disajikan di dalam gedung putih tersebut, yang dinamakan Sunrise Club. Seperti gala dinner versi sederhana, makanan – makanan diantarkan oleh para pelayan itu ke meja. Makan malam itu juga diiringi dengan live music, yang mengundang tamu-tamu untuk ikut berpartisipasi unjuk gigi.

 

Berdasarkan hasil ngobrol–ngobrol dengan pengurus resort di sana, pulau sebesar 5 hektar itu dimiliki oleh pengusaha bernama Christian William, (kebayang donk betapa tajirnya orang itu, sampai bisa – bisanya membeli pulau), dan ternyata bukan Pulau Umang saja yang dia beli, tapi juga Pulau Owar, yang ditempuh 5 menit dengan boat dari Pulau Umang. Bertentangan dengan Pulau Umang yang dibangun resor – resor mewah, Pulau Owar dibiarkan tetap alami, dengan pantai pasir putih yang halus dan laut yang jernih, tempat ini menjadi sasaran pengunjung – pengunjung pulau Umang untuk bermain pantai dan watersport.

 

 

Di Pulau Umang kita bisa menikmati sunset sekaligus sunrise sepuasnya. Tapi sayangnya sewaktu aku di sana, langit berawan terus, alhasil pupuslah sudah harapan bisa memfoto sunrise dan sunsetnya. Meskipun begitu, pemandangan birunya laut dan putihnya pasir cukup memuaskan untuk dijepretJ

 

Kalau menurutku sih, meskipun memang tempat ini sudah kurang natural karena terlalu banyak sentuhan manusia, tetapi cocok untuk orang-orang Jakarta yang mencari tempat berlibur untuk sekedar bersantai dan melepaskan kepenatan ibukota. Jika dibandingkan anyer dan carita yang pantainya kotor dan terlalu banyak penjaja, Pulau Umang menjanjikan liburan yang tenang dan menyegarkan.

 

Budget: +/- Rp600,000 per orang

Sudah termasuk akomodasi, makan, perahu.